Showing posts with label PERIGI. Show all posts
Showing posts with label PERIGI. Show all posts

Monday, September 21, 2015

Sungai Lembok Riwayat Mu Kini


Sungai sejak dahulu kala merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat sekitarnya. Denyut kehidupan selalu nampak disetiap aliran sungai yang bisa menyuplai atau menyediakan kebutuhan air, makanan, penghasilan penduduk  hingga jalur transportasi ini. Tak terkecuali dengan sungai Lembok, sungai yang berada di antara Dusun Perigi dan Desa Lembok ini masih dalam kawasan kecamatan Long ikis Kabupaten Paser. Sebagai aliran sungai yang cukup besar *(namun belum termasuk DAS besar seperti Telake dan Kendilo) sungai Lembok ini punya banyak kisah dan sejarah sendiri sejak zaman dahulu kala. Kisah-kisah tersebut tentunya masih mengalir dari generasi ke generasi pada masyarakat yang bermukim di dua kampung tersebut, mengalir seperti aliran air sungai Lembok itu sendiri. 

        Para orang tua kadang bercerita tentang sungai Lembok itu pada masa yang sangat lampau. Entah jika dalam pelajaran sejarah hal tersebut pada zaman apa. Cerita-cerita itu hanya terus bersambung dari generasi ke generasi. Sungai Lembok saat itu benar-benar menyediakan kemakmuran pada penduduk sekitar. Aliran sungai itu tak hanya menyediakan air bersih dan lauk-pauk saja namun juga batu-batuan “Bulau” yang sangat mudah untuk ditemui. Bulau adalah sebutan “emas” dalam bahasa suku Paser. Untuk menggambarkan betapa melimpahnya emas saat itu di sungai Lembok itu, digambarkan bahwa isi renggap atau mata anai-anai untuk memotong tangkai padi saat memamen itu pun dibuat dari emas.  Namun sesuatu yang berlebihan itu memang tak akan berakhir baik. Begitu pula dengan masa kejayaan tersebut.  Semua kilauan bulau tersebut dihilangkan dari aliran sungai Lembok itu dan sampai kapanpun tak akan mudah didapatkan oleh masyarakat lagi. Sumpah telah terucap dan tak bisa melunturkan sumpah tersebut. 
        Peradaban di sekitar aliran sungai Lembok sudah tercipta sejak dahulu kala.  Penduduk pribumi suku Paser sudah menetap dan membuat pemukiman diantara aliran sungai ini. Dan entah bagaimana kisahnya kini aliran sungai ini jadi pembatas dua Desa yakni antara Desa Lembok dan Dusun Perigi yang masuk Desa Semuntai. Namun sistem kekerabatan penduduk asli Dusun Perigi dengan Desa Lembok hingga kini tetap tak ada pembatasannya.
Walaupun pemukiman penduduk berdekatan dengan aliran sungai Lembok namun penduduk saat itu benar-benar memperlakukan sungai sebagai anugerah yang perlu dijaga. Masih sangat segar dalam ingatanku ketika masih anak-anak yang sering diajak mengunjungi rumah Dato*(Kakek) di Desa Lembok. Rumah panggung dengan tiang-tiang rumah yang menjulang itu tidaklah berada tepat dipinggir sungai melainkan ada jarak yang lumayan jauh dari bibir sungai. Sungai itu ibarat jalan raya saat ini, jadi tak ada bagian belakang rumah yang menghadap sungai. Sehingga tak ada comberan atau pembuangan limbah lainnya yang mengarah langsung ke sungai. Untuk sampai ke rumah Dato memang harus menyeberangi sungai terlebih dahulu. Sungai bisa disebrangi dengan berjalan kaki ketika tidak dalam keadaan banjir besar atau pasang, namun jika air pasang biasanya akan memilih menyeberangnya agak kehulu lagi karena ada batas berhenti pasang yang memang tidak terlalu jauh.
Pinggiran sungai saat itu masih sangat asri dengan banyak pepohonan besar khas tanaman pinggir sungai seperti pohon temar dan lain sebagainya. Selain itu ada juga pohon pisang dan kopi yang menyelimuti jalan setapak tepi sungai menuju rumah Dato. Sedikit kearah hulu ada beberapa pohon Lomu besar yang biasa tempat hinggap lebah madu membuat sarang. Pohon ini juga kadang berbuah dan beruntungnya Aku juga pernah merasakan mencari langsung dan menikmati buah Lomu tersebut. Diantara sigapnya pohon Lomu itu juga terselip pohon “ensom buyung” atau asam hitam yang pohonnya tak kalah besar juga. Tepi-tepi sungai saat itu memang sangat asri dengan berbagai jenis pepohonan yang menakjubkan. 
 Pohon Lomu yang ada di pinggir sungai Lembok yang masih tersisa

Ada pula sedikit kenangan indah yang diceritakan ine’/ibuku saat masih tinggal di rumah Dato. Beliau bercerita tentang mudahnya mendapatkan lauk-pauk dari sungai Lembok saat itu. Hanya dengan memasang bubu yang tak lupa diberi umpan kelapa didalamnya, begitu banyak ikan yang bisa tertangkap dalam bubu tersebut. Satu bubu saja sudah cukup puas untuk menikmati makan dengan lauk ikan sungai air tawar.
        Dari kediaman Dato di Desa Lembok kini kita berpindah cerita menuju Dusun Perigi. Pada pemukiman penduduk di Dusun Perigi aliran sungai Lembok ini hampir keseluruhannya mengalami pasang surut. Hal tersebut membuat berbagi jenis penghuni sungai itu lebih beragam lagi. Saat air pasang maka jenis-jenis ikan yang biasa hidup di air asin akan mudah ditemui, namun jika air surut air akan menjadi tawar kembali. 
Dato (orang tua dari uma’/bapak) juga pernah bermukim memiliki rumah yang tak jauh dari bibir sungai Lembok yang berada di Dusun Perigi. Jarak antara rumah dengan tepi sungai itu sekitar kurang lebih 50 meter. Jarak antara rumah dengan tepi sungai banyak ditumbuhi beranekaragam pepohonan buah-buahan seperti, durian, langsat, munte(jeruk), dan masih banyak yang lainnya. Pada masa itu orang tuaku menjelaskan bahwa mudahnya memperoleh lauk-pauk dari sungai. Ketika sampai dirumah dan tak ada lauk-pauk yang tersedia, maka cukup sekali saja menebar jala ikan, jala itu akan dipenuhi berbagai jenis ikan dan udang. Jika ingin mendapatkan ikan yang ukurannya lebih besar, terkadang dipasang rawai( sejenis pancingan yang memiliki mata kail yang banyak yang dipasang sejajar) di aliran sungai yang agak dalam dan biasa menjadi tempat ikan besar melintas dan mencari makan. Rawai biasanya dibiarkan semalaman dan dicek pada pagi hari. Ada ikan jenis kakap dan sembelang yang biasa didapat pada kail-kail rawai tersebut. Berbagai jenis hasil rawai biasanya akan berlebihan jika hanya untuk sekedar lauk-pauk, terkadang sebagian dijual untuk menghasilkan beberapa lembar uang saat itu.
        Zaman pun terus berubah, masyarakat sekitar saat itu benar-benar masih merasakan anugerah sungai itu. Jika menginginkan udang gala bisa memancingnya, terkadang udang gala yang besar-besar itu juga bisa didapat dengan memasang bubu. Ingin ikan bisa menjala, rengge, pasang rawai dan memancing menggunakan ambur atau bisa juga dengan cara menyelam menembak ikan dengan sundak. Ingin kepiting bisa didapat dengan cara  mintan atau dengan rakang. Dan jika ingin udang rebon yang kecil-kecil itu bisa didapat dengan cara nyodo di arus-arus aliran air diantara bebatuan pasir baras ketika air mulai mengecil atau surut. Udang-udang kecil itu oleh masyarakat sekitar biasa dipermentasi menjadi “Ronto” atau ada juga yang dikeringkan bahkan diolah langsung.  Hmmmm….. ronto. Makanan dengan aroma khas ini memang favorit beberapa kalangan sejak dulu. Apalagi jika diolah dengan campuran bawang gunung dan dinikmati dengan nasi hangat yang dikepal-kepal. Namun ada juga sebagian orang yang tidak menyukainya karena dari aroma khasnya tersebut. Dan bagi yang memiliki alergi udang, sudah tentu harus berfikir dulu sebelum menikmatinya. Daripada setelah selesai memakannya kemudian muncul jurus cakar harimau, hehehe… cakar harimau untuk menggaruk-garuk.
        Sekitar tahun 1960-an sungai Lembok juga pernah menjadi tempat pasar apung.  Pasar apung tersebut pernah membuat Dusun Perigi sangat dikenal luas dimata para pedagang yang berasal dari luar daerah saat itu. Pedagang dari luar tersebut masih banyak didominasi oleh orang-orang Bajau yang berasal dari daerah pesisir hingga ke Muara Adang. Mereka banyak membawa hasil laut mulai dari yang masih segar maupun yang sudah berupa olahan, dari berbagai jenis ikan hingga kerang-kerangan seperti tambi(Tudai) dan lain sebagainya yang kemudian ditukarkan dengan hasil kebun atau ladang milik warga sekitar. 


Daerah Loyu Batu 
   

    Jembatan Pipa milik Pertamina menjadi tempat penyebrangan

Kedaaan hutan yang asri dipinggiran sungai Lembok tempo dulu juga menciptakan keharmonisan dengan beberapa satwa di kawasan tersebut. Pohon-pohon buah yang tumbuh memayungi aliran sungai itu memang menjadi daya tarik bagi binatang apa saja yang hendak mencari makan ke tempat tersebut.  Saat itu setiap pagi kita bisa mendengarkan suara kelawot (uwa-uwa) yang mendayu-dayu membuka mengawali pagi. Ada sebuah kedamaian ketenangan batin yang dapat dirasakan saat masih bisa mendengarkan suara satwa-satwa seperti itu dilingkungan rumah kita sendiri. Bukan suara dari balik kekangan sebuah kandang namun suara yang memang berasal dari alam yang sesungguhnya.
        Sungai Lembok memang sering mengalami banjir. Hal tersebut biasa terjadi saat musim penghujan tiba. Beberapa kesempatan juga pernah terjadi banjir yang besar hingga meluap dari aliran sungai. Daerah dataran rendah yang dulu digunakan sebagai area persawahan pun menjadi terendam oleh air yang berwarna keruh itu. Keruh, ya itulah yang menjadi pertanda jika sungai Lembok sedang banjir saat itu. walaupun debit airnya masih setengah dari badan sungai jika warnanya sudah keruh, maka warga sekitar pasti mengatakannya banjir. Orang Paser menyebutnya “owa tenga tengkiwang” yang artinya banjirnya masih setengah dari badan sungai. Apalagi jika airnya sudah meluap keluar dari aliran sungai, hal itulah yang dikatakan “owa olai” atau banjir besar.
Banjir besar biasanya bisa terjadi karena beberapa hal yakni, pertama terjadi karena di hulu sungai terjadi hujan yang sangat deras dalam waktu yang lama. Hulu dari sungai Lembok memang memiliki cabang yang banyak, sehingga akan menyuplai debit air yang sangat besar menuju hilirnya. Namun banjir akan lebih cepat lagi meluap jika disaat bersamaan dari hilir sedang ada air pasang yang sedang naik. Walaupun debit air yang dikirim dari hulu tidak terlalu besar, tetap saja akan menciptakan banjir besar juga. Dan apabila debit air sangat besar dari hulu kemudian dikomposisikan dengan air pasang dari hilir, waaahhh…. Area persawahan akan terlihat seperti sungai Kendilo yang warnanya selalu keruh itu. walaupun sungai itu kadang banjir besar amun tak pernah sampai membuat bencana besar bagi penduduk sekitar. Jika banjir besar dari pagi kadang tengah hari juga sudah tidak sampai meluap lagi. Bagi sungai Lembok banjir dengan air berwarna keruh itu bak ritual pembersih diri. Setelah banjir air akan kembali jernih dan bersih, akan ada ribuan kubik pasir dan koral baru yang terbawa dari hulu dan mengendap didasar sungai. Berbagai jenis organisme akan memulai kehidupan baru menikmati keadaan lingkungan yang baru tersebut.
Keadaan air sungai Lembok yang masih bersih merupakan berkah bagi masyarakat sekitar, tak terkecuali bagi anak-anak saat itu. Sungai Lembok merupakan salah satu arena bermain favorit bagi anak-anak. Disungai itu mereka bisa mandi dan bermain sepuas-puasnya tanpa membayar sepeser Rupiah pun. Terkadang hingga mata memerah dan jari-jari tangan mengkerut keriput. tak ayal hal tersebut terkadang membuat para orang tua berang saat anak mereka sudah tiba di rumah masing-masing. Hehehe… mau bagaimana lagi, sebagai anak-anak yang lahir dan dibesarkan dilingkungan kampung seperti itu, tak ada kegiatan lagi yang bisa membuat mereka senang kecuali bercengkrama dengan alam. Dan sebenarnya lingkungan alam juga membentuk mereka menjadi anak-anak yang tangguh, tangguh dalam berkawan dan terkadang sebagian juga tangguh dalam menerima amarah ceramah dari orang tua karena terlalu banyak bermain disungai hingga lupa waktu, hehehe…  selain itu juga anak-anak pandai berenang, kreatif dalam menciptakan berbagai permaian bersumber dari alam dan lain sebagainya. Dan menurutku, ketika anak-anak tersebut sangat menyukai bahkan mencintai alam tempat ia bermain, maka ia tak akan rela jika tempat bermainnya itu menjadi rusak sampai kapan pun.  
        Semakin tahun ketahun kini wajah sungai Lembok terus berubah. Sisi kanan dan kiri sudah mulai terbuka dan digantikan perkebunan kelapa sawit.  Bentuk alirannya pun terus berubah-ubah. Kuatnya terjangan arus air saat banjir besar serta mulai berkurangnya pohon-pohon penyangga pinggiran sungai membuat tepi-tepi sungai mengalami pengikisan tanah dalam waktu yang cepat. Hal tersebut juga berakibat tumbangnya beberapa pohon besar yang ada ditepi sungai. Akar kuat dengan tubuh kokoh menjulang pun akhirnya takluk dengan air yang terus menggerus pertahanan akarnya. Seperti yang terjadi pada pohon Lomu yang sangat besar yang berada tepat dipinggir sungai Lembok. Bertahun-tahun lamanya pohon itu menjadi maskot sebagai yang terbesar di kawasan itu. Pasak-pasak yang menancap erat ditubuhnya mengisyaratkan bahwa pohon itu telah menghasilkan banyak madu dari sarang lebah yang selalu hinggap di dahannya. Puncaknya yakni pada suatu pagi buta dimana masyarakat Dusun Perigi dikejutkan oleh suara dentuman keras yang dibarengi dengan getaran bumi yang lumayan dahsyat. Pohon Lomu itu tumbang dengan arah melintang diatas aliran air sungai Lembok itu. Setelah pohon itu tumbang, nampak jelas ada bentuk kehidupan lain yang juga ikut mati. Sarang burung elang yang hancur dan tak ada tanda-tanda selamat untuk anak-anaknya yang masih kecil saat itu. Sebelumnya burung elang memang sering bersarang dicabang-cabang dahan pohon tersebut.  Ribuan pasukan lebah madu pun akhirnya harus merelakan tempat yang biasa mereka singgahi untuk bersarang, selain itu juga kondisi hutan yang berubah menjadi perkebunan kelapa sawit juga membuat para lebah madu benar-benar pergi dari kawasan itu. Lunglai lambaian putus asa dari daun-daun anggrek yang terkoyak-koyak berserakan diantara dahan-dahan yang patah.
 Tunggul batang pohon aren yang ditebang. Menandakan sudah beralihnya mata pencarian dari menyadap nira aren ke perkebunan kelapa sawit.

        Kenangan-kenangan masa lalu tentang sungai Lembok sepertinya mulai tersamarkan oleh beberapa perubahan yang berlaku. Masyarakat sekitar pun mulai merasakan hal-hal yang kurang baik sedang berlaku pada sungai tersebut. Saat masuknya perusahaan tambang nikel yang berada di hulu sungai, terkadang warna air menjadi keruh pekat bahkan hampir memerah. Hal tersebut memang tidak terjadi setiap hari, ada waktu-waktu tertentu saja. Dan bersyukurnya perusahaan di hulu sungai itu tak berumur panjang dan kemudian tidak beroperasi lagi. 
 Air sungai Lembok terlihat sangat keruh yang tak biasa, padahal tidak ada terjadi hujan dengan intensitas besar.

        Perubahan tingkat ekonomi dan pola gaya hidup masyarakat suatu daerah tersebut juga mempengaruhi pola pikir dan gaya pandang beberapa orang pada sungai. Dahulu sungai dipandang sebagai sumber kehidupan dan patut dijaga keberadaannya kini mulai dipandang sebagai tong sampah raksasa bagi sebagian orang. Begitu banyak sampah-sampah mulai tebar pesona di aliran sungai itu, sehingga air pun menjadi sangat kotor dengan menjijikan. Hal tersebut pernah membuatku tidak jadi mandi disungai tersebut. Kebetulan saat itu musim kemarau dan belum ada air PDAM yang mengalir kerumah-rumah. Aku dan ine’ pergi mandi ke aliran sungai Lembok bagian hulu dari jembatan itu dengan tujuan agar mendapatkan air yang masih tawar karena belum terkena air pasang dari hilir. Setelah tiba ditempat tujuan aku hanya mengidik dan mengelengkan kepala, melihat sebuah rumah dengan bagian belakang rumahnya yang menghadap langsung tepat di tepi sungai. Terlihat jelas aliran limbah rumah tangga yang mengalir langsung menuju sungai yang tepat dibawahnya. Disamping itu juga terlihat menumpuk sampah-sampah kemasan yang berada di tepi sungai tepat dibelakang rumah tersebut.
Jiwa rasanya mengkerut dan menciut jatuh kedalam sebuah ruang yang gelap dan pengap. Bagaimana jika rumah seperti itu berdiri lebih banyak lagi ditepi-tepi sungai yang kucintai ini. Kecemasan itu muncul karena Aku tak ingin sungai ini kelak menjadi seperti sungai-sungai yang ada di kota-kota besar yang tak terurus dan seperti memang sengaja menjadi tempat pembuangan. Dan Aku yakin semua warga di sekitar sungai tersebut juga tak menginginkan hal tersebut terjadi.
Hal senada juga pernah diutarakan oleh seorang warga Dusun Perigi yang profesi kesehariannya adalah sebagai nelayan pencari ikan. Di bawah rimbunnya pohon temar di tepi sungai beliau menceritakan beberapa pengalamannya saat menyusuri sungai Lembok ini hingga olong atau muaranya. Menurutnya sungai ini memang sudah mulai kotor. Banyak sekali sampah-sampah yang dibuang kesungai ini dalam berbagai bentuk dan jenis. Mulai dari berbagai jenis sampah plastik, kotoran atau limbah pemotongan ayam pedaging hingga bangkai binatang seperti bangkai anjing, kucing. Seburuk ini kah perlakuan manusia zaman sekarang pada anjing dan kucing yang mati. Padahal pandangan yang selalu melekat pada  masyarakat sejak dulu adalah jika binatang seperti anjing dan kucing itu mati maka lebih baik jika dikuburkan bukan malah membuangnya kesungai. Setelah terbiasa membuang bangkai binatang kesungai, jangan-jangan selanjutnya juga bangkai manusia yang dibuang kesungai tersebut. Hal tersebut memang bisa saja terjadi karena prilaku sifat kemanusiaan seseorang itu sudah berubah atau hilang.  

 Beberapa sampah mulai tebar pesona dan terlihat diatas pasir dan pinggiran sungai ketika air surut.

        Lanjut beliau, pemasok sampah kesungai Lembok itu juga banyak berasal dari beberapa orang yang sengaja membuang sampah dari atas jembatan Lembok tersebut. Terkadang ada pedagang pasar yang sengaja membuang sampah sisa penjualannya di pasar dari atas jembatan itu. Dulu banyak orang membuang sampah di suatu tempat yang berada di jalan masuk Tajur melalui simpang empat Pait, namun sampah yang menumpuk itu kemudian diprotes warga sekitar hingga akhirnya ditutup. Selain ditempat itu dulu juga ada pembuangan sampah di jalan belakang masjid Al-hijrah Lembok berdekatan dengan Benteng, karena lahan yang dipakai adalah milik warga akhirnya diprotes juga oleh pemilik lahannya. Diduga karena belum adanya tempat pembuangan akhir yang menaungi wilayah kecamatan Long ikis ini membuat banyak yang membuang sampah disembarang tempat, seperti sungai dan lahan milik warga. 

 Jembatan Sei Lembok


Penampakan aliran sungai Lembok yang dilihat dari atas jembatan

        Bapak dua anak yang gemar bereko*(Bercanda) ini mengatakan bahwa sungai Lembok ini masih terselamatkan sedikit karena adanya banjir dan air pasang surut yang melarutkan semua sampah-sampah itu ke hilir. Namun jika terus menerus seperti itu bukan tidak mungkin lagi jika anak-anak sungai di hilir dipenuhi oleh sampah dan mencemari habitat perairan tersebut. Sebagai contoh saja kini saat mencari kerang “telagi” kita akan sangat terganggu oleh sampah-sampah yang mengambang dan mengendap di dasar sungai Lembok. Jika terus begini, kedepannya bisa-bisa kita juga merasa jijik mengkonsumsi telagi tersebut. -_-
 Kegiatan mencari kerang telagi, kegiatan ini biasanya dilakukan saat air sedang surut.


        Rona cahaya sang surya ternyata sudah mulai meredup diufuk barat. Kami pun mengakhiri perbincangan hari itu dan langsung pulang kerumah masing-masing. Walaupun kami berpisah pada jalan setapak yang berbeda menuju rumah masing-masing namun jika sungai ini memanggil, kami punya jalan yang berbeda-beda itu yang ujungnya sama-sama menyatu menuju sungai tersebut. 
        Zaman memang terus berubah begitu pula dengan semua yang ada disekitar kita. Lingkungan kita, pola pikir kita, perekonomian bahkan kepadatan penduduk. Namun perubahan itu jangan sampai ikut merubah sifat baik kita menjadi buruk. Jangan sampai zaman menggenggam kita namun kita lah yang harus menggenggam zaman itu. Jika kelak dusun Perigi dan dusun Maso(Lembok) ini terus berkembang dan memperluas daerah pemukimannya, semoga selalu menjaga dan memelihara sungai yang membelah dua kampung tersebut. Jangan pernah lupa bahwa cikal bakal awal terbentuknya perkampungan disekitar sungai tersebut adalah karena aliran sungai inilah yang pertama kali menemukan daerah itu sehingga dijadikan pemukiman.  Elok kah jika kita harus merusak wajahnya yang banyak berukirkan sejarah kisah masa lalu itu. Jangan sampai kita meminum dan menggunakan air bagian hulunya dan kemudian menjadikan hilirnya sebagai tampungan sampah kita. Hal itu sama saja seperti kita mengharapkan sebuah hasil dari satu pokok kelapa sawit tanpa kita merawat dan memupuknya. Sudah diketahui kan bagaimana hasilnya, begitu pula dengan sungai yang selalu kita harapkan kebaikannya bagi hidup kita namun kita tak pernah memberi kebaikan pula padanya, malah memberikan keburukan.
        Sampai saat ini sungai Lembok memang masih sangat banyak memberi manfaat kebaikan untuk warga sekitar. Kita masih bisa menerima pasokan air dari bendungan PDAM yang dapat dinikmati dirumah-rumah warga. Ketika air surut biasanya ada beberapa warga yang mencari telagi sekedar untuk lauk-pauk. Ada juga yang mengeruk pasir atau koral sungai yang kemudian dijual. Pada saat kemarau panjang tiba, akan ada banyak yang membawa jala untuk mencari udang yang sedang naik karena air asin sudah masuk ke daerah sungai. Pada saat-saat tertentu entah siang maupun malam, kadang ada yang memancing ikan dari tepi sungai. Bahkan dulu saat kemarau lumayan panjang ada fenomena saat ikan-ikan air asin sudah mulai masuk hingga daerah jembatan, banyak yang memanfaatkannya untuk memancing dari atas jembatan itu saat malam hari. Manfaat kebaikan sungai tersebut yang tak kalah pentingnya adalah hingga saat ini menjadi jalur transportasi warga yang hendak pergi kearah muara. Bukan hanya warga sekitar yang punya hobi melaut atau mencari ikan, udang, kepiting dan lain sebagainya itu, namun banyak pula orang-orang dari luar kampung sekitar sungai tersebut yang sengaja menambatkan perahu mesinnya di tepian-tepian milik warga sekitar. 



 Bendungan Sungai Lembok yang berada di Desa Lembok Kecamatan Long ikis

Tanaman biowo banyak ditemukan diarea perkebunan warga yang berada disekitar sungai Lembok

Bukti bahwa warga disekitar sungai Lembok mempunyai tradisi adat budaya yang masih melekat




Perahu-perahu bermesin milik penduduk sekitar yang sedang tambat di tepian sungai Lembok.

Taruk Paku. tanamn ini dapat dijumpai dibeberapa empat di tepi-tepi sungai Lembok. Lumayan buat sayur.

Nah, sepertinya semalam ada yang sedang mancing disini. Bara apinya pun masih terasa hangat.

Pada pinggiran sungai biasanya ada tanaman yang disebut teberaw. batang tanaman ini mirip tebu tapi tidak memiliki kandungan air seperti layaknya batang tebu pada umumnya. Tanaman ini sangat berguna untuk mempertahankan tanah ditepi-tepi sungai dari pengikisan arus air sungai.









Penampakan aliran sunagi Lembok. semakin ke hulu aliran airnya terlihat semakin dangkal.


Melihat beberapa manfaat kebaikan tersebut tak salah memang jika kita menyebutkan bahwa sungai itu sumber kehidupan. Sumber dimana kita bisa mendapatkan berbagai hal yang bisa menyokong kelangsungan hidup kita. Bisa kita bayangkan bagaimana jika penyebutan itu telah berubah menjadi sungai “sumber kematian”. Disanalah sumber dari berbagai hal yang buruk, mulai dari berbagai penyakit hingga kematian.
        Tulisan ini pun bukan bermaksud menghakimi mereka-mereka yang telah melakukan kesalahan seperti yang dijelaskan tadi. Namun disini kita bisa menyikapinya bersama-sama, apa yang harus diperbuat, bagaimana seharusnya dan lain sebagainya. Peran serta semua lapisan masyarakat sangat diperlukan disini, bukan hanya perindividu maupun golongan saja. Bukan hanya milik orang Paser saja, bukan pula tanggung jawab para orang tua saja dan bukan kewajiban bagi generasi muda saja, tapi semua punya peran masing-masing yang berhulu satu yakni untuk sungai Lembok yang lebih baik. ^_^

        Mari kita mulai membayar semua kebaikan yang sudah kita terima

Monday, June 9, 2014

Beroa dan Tambak Pulut Tradisi Paser

     Semenjak masih jaman kanak-kanak saya sudah sangat terbiasa menghadiri berbagai acara beroa (acara selamatan dalam budaya masyarakat Paser). baik itu diadakan ditempat dato(kakek), tua' , uda, maupun ditempat keluarga yang lain bahkan dirumah sendiri juga sering diadakan.
Beroa ini biasanya banyak macamnya mulai dari yang paling sederhana yakni beroa  bulan roa, beroa bua-bua, beroa bayar hajat, beroa nyera' dan lain sebagainya. Namun disini penulis tidak semata-mata menjelaskan acara beroa tersebut, melainkan ada sebuah sajian yang biasanya selalu hadir pada setiap beroa tersebut (kecuali beroa bua'-bua'), yaitu "Tambak Pulut".
Haaaaahhh....!! Tambak pulut...???
Mungkin bagi agan-agan yang belum tahu mengira pasti ada hubungannya dengan kolam luas tempat memelihara ikan bandeng dan udang.. he.... 
Tambak Pulut ini adalah sajian yang terbuat dari ketan dan dibentuk seperti punuk/gunungan


Beroa sering dilaksanakan pada bulan roa (Sebelum bulan ramadhan), atau terkadang dilaksanakan pada malam sebelum hari raya. Biasanya waktu pelaksanaannya yakni setelah waktu magrib dan ada juga yang setelah waktu isya. Penetapan dua waktu tersebut biasanya menghindari waktu pelaksanaan beroa yang bersaamaan di rumah-rumah masyarakat yang berbeda. Jika dirumah penduduk satunya dilaksanakan pada saat selesai waktu magrib maka ditempat berbeda akan melaksanakan pada waktu setelah waktu isya. Hal tersebut bertujuan agar warga dalam satu kampong tersebut masih bisa menghadiri masing-masing rumah yang melaksanakan beroa tersebut.

     Dalam prosesi Beroa ini bisanya diawali dengan menyiapkan segala perlengkapan acara seperti masak-masak yang dilakukan pada ine'-ine' (ibu-ibu) dan remaja putri pada siang harinya. sejak dahulu proses masak-masak ini dilakukan secara gotong royong dan mengundang warga kampong, hal itu dikhususkan untuk acara yang besar saja. Berbeda apabila acaranya hanya kecil-kecilan, biasanya tuan rumah hanya mengundang sanak keluarga dekat dan para tetangga saja.
Saat waktu beroa tiba, tuan rumah terlebih dahulu menerima orang-orang yang datang dan sudah menjadi tradisi semua para tamu duduk lesehan dirumah yang menggelar Beroa. Posisi duduk lesehan ini membentuk posisi saling berhadapan dan memanjang, hal inilah yang menyebabkan ruang tamu atau ada ruang khusus rumah orang Paser yang membentuk ruang lost memanjang. Biasanya agar tuan rumah lebih memeberi ruang yang baik dan leluasa pada saat acara beroa. Ditengah-tengah para tamu yang sedang duduk lesehan tersebut akan dihidangkan makanan yang nantinya akan dinikmati bersama-sama. Makanan pertama yang dihidangkan adalah makanan berat seperti nasi beserta lauk pauk seperti ayam masak merah, masak kuning, oseng hati rempela ayam yang dicampur mi kuning, sayur umbut, sayur terong dan lain-lain tergantung kemampuan si penyelenggara acara. Sementara sipenghulu dan tuan rumah duduk dipaling ujung barisan tersebut dan saling berhadapan. Dihadapan tuan rumah dan penghulu atau sering disebut pembaca doa itu dihidangkan beberapa tambak pulut, beberapa jaja/kue yang diletakkan dalam satu baki dan perapen untuk membakar kayu wangi-wangian atau juga biasanya menggunakan gula putih.

Saat  para undangan sudah terkumpul maka penghulu akan mulai membaca doa keselamatan dan tolak bala serta diikuti oleh yang lain dengan menadahkan tangan (seperti berdoa) dan menyahut "Amiiiiiiin" setiap akhir kalimat doa yang dibacakan. Setelah selesai berdoa maka pada tamu dipersilahkan menikmati hidangan yang ada dan baki tambak pulut tadi diambil kembali dan diserahkan pada pihak ine-ine yang biasanya berada diruang dapur untuk memotong-motong membagikan kembali tambak pulut tersebut ke masing-masing piring dan dihidangkan lagi pada pada tamu sembari mereka sedang makan.

Setelah selesai menikmati hidangan yang ada tuan rumah biasanya langsung menyimpun kembali piring-piring yang kosong untuk dibawa kebelakang(tempat mencuci), disana lagi-lagi para ine'-ine' dan remaja putri telah menunggu untuk mencuci piring. Hidangan kini berganti dengan teh atau kopi dan beberapa jaja seperti onde, apam dan lain-lain. Hidangan terakhir ini adalah sebagai makanan penutupnya dan para tamu menikmatinya sembari bercengkrama berbincang-bincang mengenai pengelaman-pengalam hidup maupun cerita lainnya. Pada perbincangan tersebut biasanya tercipta komunikasi yang sangat hangat dan menciptakan pengalaman silaturahmi yang sangat dekat, tak jarang gelak tawa muncul dalam perbincangan tersebut karena para orang tua juga sangat senang "Bereko" atau istilah umumnya bercanda. Pada saat menikmati hidangan penutup tersebut sebenarnya kita telah selesai mengikuti acara beroa tersebut, kita bisa berpamitan dengan tuan rumah dan menyalami(bersalaman) dengan semua tamu undangan yang lain jika ingin pulang lebih dulu. Namun bagi yang senang mendengarkan cerita-cerita dari orang tua yang sudah barang tentu lebih banyak makan garam daripada kita, saat-saat seperti itu adalah hal yang sangat dinanti-nanti dan menyenangkan mendengarkan cerita-cerita dari beliau-beliau tersebut.

     Baiklah.... setelah mengetahui sekit tentang proses beroa yang sangat sederhana tersebut kini kita fokus pada tambak pulut yang sudah sedikit penulis kenalkan diawal tadi. Untuk membuat tambak pulut ini biasanya dilakukan oleh para ine'-ine' yang sudah mahir dalam pembuatannya.
Pertama-tama kita harus menyiapkan beras ketan yang direndam terlebih dahulu dan dipisahkan menjadi dua jenis yakni putih dan kuning, yang kuning beras ketannya tidak mendapatkan bahan tambahan apapun sedangkan yang kuning beras ketannya harus direndam dengan air parutan "jomit" atau kunyit hingga butiran beras ketan menjadi kuning. Langkah selanjutnya beras ketan tersebut ditanak/dimasak dengan dandangan hingga masak. Sembari menunggu ketan masak proses lainya adalah menyiapkan santan kelapa yang kemudian ditambahkan garam secukupnya. Setelah ketam masak maka diangkat kedalam sebuah wadah yang dilanjutkan dengan peroses penyiraman santan kelapa tadi pada ketan sedikit demi sedikit dan langsung diaduk-aduk menggunakan serong yang terbuat dari kayu *(Bisa diganti yang lain). Peroses tersebut membutuhkan keahlian dari si pembuatnya hingga ketan dirasa sudah pas untuk dibuatkan tambak pulut, proses penyiraman tersebut hanya sekedar membasahi permukaan ketan dan kemudian diserap oleh ketan dengan diaduk-aduk, tidak boleh disiram langsung dengan volume yang besar.

Setelah ketan telah siap maka dipindahkan pada wadah baki dan langsung dibentuk selagi hangat. Untuk membentuknya kita memerlukan plastik bening pembungkus gula/terigu untuk membungkus kedua tangan kita dan lanjut membuat bentuk punuk atau gundukan seperti gunung pada baki tersebut. Membuat gunungan itu harus padat dengan sedikit kekuatan namun tetap memperhatikan keindahan tampak pulut itu sendiri, terutama bentuk permukaan luar tambak yang mulus dan rapi bentuk bulatannya.


Setelah bentuk tambak pulut jadi maka hal terakhir yang perlu dilakukan adalah menaruh telur atau potongan paha ayam kampong dipuncak tambak pulut tersebut. Bahkan pada acara beroa yang dilaksanakan secara besar-besaran akan menaruh ayam kampong panggang diatas tambak pulut tersebut. ayam kampong panggang itu biasa disebut "piak peranggang" dan biasanya dipanggang tanpa menggunakan tambahan bumbu apapun namun rasa daging ayamnya tetap nikmat.

 *Source: among ; https://www.facebook.com/among.c.angon

Menurut pengalaman saya, telur yang ada diujung tambak pulut itu selalu menjadi rebutan anak-anak. Hehe..... Termasuk saya saat masih anak-anak. Telur tersebut akan dipotong dibagi-bagi menjadi bagian yang kecil-kecil saat proses pemotongan tambak pulut, sehingga telur tersebut bisa dibagi dengan bagian yang lebih banyak. Proses pemotongan pembagian tambak pulut itu juga tidak boleh sembarangan potong, ada tahapan-tahapannya juga. Tahap pertama adalah memotong menggunakan pisau bagian atas tambak pulut dengan posisi memotong bagian dekat pucak dengan melingkar, kemudian baru boleh memotong bagian-bagian lainnya dengan bentuk kotak-kotak atau jajar genjang yang penting besarnya sama. 

Bagaimana dengan rasa tambak pulut ini ?, karena pada proses pembuatannya menggunakan santan kelapa yang dicampur sedikit garam, sehingga membuat rasa ketan memiliki cita rasa gurih dan sangat nikmat sekali jika dicocol kuah dari ayam masak merah maupun kuah ayam masak kuning... 
Hhhhmmmmmmm...... yuuuumiiiiii...,..

Karena salah satu tradisi tersebutlah setiap tahunnya ketika orang Paser "Ngumo" atau berladang entah padi gunung atau padi sawah sudah pasti harus juga menanam padi beras "Pulut"atau ketan selain padi "kopas" atau beras biasa. Selain untuk tradisi membuat tambak pulut, beras ketan juga sangat dibutuhkan untuk membuat Pontaq atau emping padi , lemang, dan jenis makanan lainnya.

Demikianlah sedikit informasi mengenai beroa sederhana dan tambak pulut dalam tradisi masyarakat Paser. Rasa syukur dan doa harapan manusia yang selalu meminta pada yang kuasa  membuat tradisi tersebut masih berjalan, Selain itu selalu mendekatkan individu masyarakat yang berbeda jabatan, akal-pikiran dalam kehidupan bermasyarakat menyatu dan bertatap muka bersilaturahmi dengan duduk sama rendah dalam suasana yang hangat. 


*Semoga artikel ini dapat menambah wawasan Anda. Oleh Admin, Sobat diperbolehkan mengcopy paste / menyebar-luaskan artikel ini, namun Anda harus menyertakan link hidup dari artikel ini sebagai sumbernya. Mohon kerjasamanya dalam sedikit menghargai hasil kerja keras dan karya dari Penulis.
Tabe....

Thursday, May 29, 2014

Kerang Telagi

     Sungai merupakan sumber kehidupan bagi manusia dan beberapa binatang lainnya. Selain sebagai sumber air bersih yang bisa dimanfaatkan, sungai juga menjadi tempat hidup berbagai mahluk hidup seperti berbagai jenis ikan, udang, kepiting, kerang-kerangan, siput dan lain-lain. Tak terkecuali dengan Atang Lembok atau sungai Lembok. Sungai yang berada di antara kampong Perigi dan desa Lembok ini masih dalam satu wilayah kecamatan Long ikis Kabupaten Paser. 
Tidak sulit untuk menemukan Atang Lembok ini, jika kita melakukan perjalanan darat dari Penajam menuju arah Tana Paser, saat kita berada di wilayah desa Lembok maka tak membutuhkan waktu yang lama kita akan menjumpai jembatan sei Lembok yang menjadi pembatas dengan kampong Perigi disebelahnya. 

(Jembatan Sei.Lembok)

(Letak Atang Lembok pada peta)

     Pada kesempatan ini,penulis ingin mengenalkan salah satu penghuni sungai Lembok yang menjadi primadona masyarakat sekitar bahkan mereka yang jauh dari kampong Perigi. Nama penghuni sungai Lembok itu adalah "Telagi", sejenis kerang-kerangan yang hidup di air tawar sungai Lembok. Walaupun sungai lembok memiliki aliran yang lumayang panjang namun Telagi ini hanya terdapat di sungai lembok mulai dari jembatan arah hilir dan terus ke hilirnya saja sampai seputaran  "terusan" atau sampai muara sungai Perigi saja. untuk aliran sungai lembok bagian hulu dari jembatan tersebut kita tidak akan menemukan kerang cantik yang lezat ini. 

(Daerah yang berwarna merah merupakan habitat telagi )
 
     Jika dilihat dari daerah pemukiman penduduk, daerah hulu dari jembatan sei lembok adalah pemukiman penduduk desa Lembok, sedangkan bagian hilir jembatan tersebut adalah pemukiman penduduk kampong Perigi. Walaupun rumah-rumah penduduk tidak dibangun berdekatan dengan sungai tersebut, tetapi lahan kebun dan daerah tambatan perahu nelayan penduduk kampong Perigi memang berada di daerah hilir jembatan sei Lembok tersebut.

(Kerang Telagi)

     Telagi adalah jenis kerang-kerangan yang hidup dengan menguburkan diri didalam pasir diantara batuan koral yang ada di sungai lembok. Ada berbagai cara untuk mendapatkan kerang telagi ini, yang pertama adalah mencari di baras. Baras adalah bahasa Paser menyebutkan tumpukan pasir dan batuan koral yang ada di sungai yang tidak tertutup oleh air. Untuk mencari di baras kita hanya perlu mencari lubang-lubang telagi diantara batu-batu koral, lubangnya tidak seperti lubang kepting yang nampak jelas lubangnya namun lubang telagi biasanya tertutup oleh pasir halus diantara batuan koral, jadi memang agak sedikit sulit mencarinya. 
Terkadang pada baras kita bisa menemukan jejak perpindahan kerang ini yang membentuk sebuah alur jalan diantara batuan koral berpasir tersebut. dikedua ujung jejak itu akan ada bentuk pasir yang sedikit menjorok kedalam dan biasanya  diposisi tersebutlah telagi berada. 


Cara kedua adalah dengan mempersiapkan alat selam. Tak perlu alat selam yang mahal, hanya kaca selam sederhana saja yang kita perlukan. Kaca selam bisa dibuat dari bahan potongan kaca, sandal jepit dengan sedikit perekat/lem yang dimodifikasi sedemikian rupa hingga menjadi sebuah kaca selam yang siap pakai.
Setelah kaca selam siap, maka langkah selanjutnya adalah berbasah-basahan ria. Menyelam dialiran sungai yang agak dalam maupun yang tidak terlalu dalam. untuk menemukan telagi didalam air cukup mudah, telagi biasanya didalam air menampakkan wujud tubuhnya diantara batuan koral dan pasir serta terkadang sedikit tertutup lumpur. Posisi telagi didalam air  adalahdengan bagian ujung cangkang yang bisa terbuka menghadap keatas dan bagian cangkang yang berfungsi sebagai engsel berada di bawah atau tertanam didalam pasir maupun lumpur. 

(Posisi telagi ketika didalam air adalah mulut cangkang menghadap keatas)

     Cara ketiga untuk mendapatkan telagi adalah dengan mencari permukaan air yang dangkal mengalir melalui baras yang posisinya sedikit terendam air. Aliran air yang dangkal ini biasanya menimbulkan semacam riam yang kecil karena terdapat banyak batuan koral dan pasir di aliran air tersebut. Setelah kita mendapatkan posisi yang dianggap bagus, maka mulailah untuk duduk dialiran dangkal tersebut dengan posisi kaki kearah hilir dan mulailah menggerakkan kedua kaki untuk membongkar koral dan pasir di aliran tersebut hingga semuanya terbongkar. Setelah dirasa cukup, bangkitlah dari posisi duduk anda dan biarkan air mengalir membersihakan air keruh dari hasil pembongkaran kita tadi. Setelah air yang keruh hilang maka akan tampak telagi yang muncul akibat proses pembongkaran tadi, namun kita harus jeli melihatnya karena warna telagi juga tak jauh berbeda dengan batuan koral disekitarnya. 

     Untuk hasil yang didapat biasanya terdapat perbedaan antara ketiga cara diatas. untuk mencari dengan cara pertama bisanya didapat telagi yang berukuran kecil hingga sedang, sedangkan untuk cara yang kedua kita akan mendapatkan ukuran telagi dari sedang hingga datonya telagi atau ukuran telagi yang besar. Sementara untuk cara yang ketiga biasanya hanya mendapatkan ukuran telagi yang kecil-kecil saja, namun tidak menutup kemungkinan juga kita bisa mendapatkan ukuran yang sedang dengan cara yang ketiga, semuanya tergantuk faktor keberuntungan kita saat mencarinya karena terkadang telagi yang besar juga terdapat dibaras maupun aliran air dangkal. Hanya saja dari berbagai pengalaman pencari telagi, ukuran yang besar banyak didapat dengan cara yang kedua. 


     Telagi sangat nikmat dimasak apa saja, muali dari disayur bening, oseng-oseng, masak santan dan lain sebagainya. Tekstur daging telagi lebih empuk ketimbang daging kerang lukan/luken yang biasa hidup di air asin hutan nipah. Penggemarnya pun kini semakin banyak, dulu telagi ini hanya sebatas dikonsumsi oleh penduduk Perigi yang dominan suku Paser, namun kini banyak mereka dari Desa Semuntai, Sandeley, Modang dan lain-lain yang ikut mencari kerang lezat ini, bahkan ada suatu ketika pedagang yang menjualnya di pasar tradisional Kuaro.
     Selain sebagai sumber makanan/lauk-pauk, telagi juga memiliki fungsi sebagai penjernih air. Jaman dahulu sebelum ada tawar yang berfunsi sebagai penjernih air, penduduk di kampong Perigi menggnaan telagi ini untuk  menjernihkan air. Untuk satu tempayan biasanya diisi dua atau tiga telagi ukuran sedang, air yang tadinya keruh pasti akan berubah menjadi jernih dan bening. Semakin banyak telagi yang digunakan maka proses penjernihannya akan semakin cepat. Menjernihkan air menggunakan telagi tidak akan merubah rasa pada air, berbeda ketika kita menggunakan tawas, semakin banyak tawas yang kita gunakan maka rasa air akan terasa pahit dan sepet. Hanya saja penggunaan telagi sebagai penjernih air juga perlu pengawasan, ketika air sudah jenih sebaiknya telagi dipindahkan, karena dikwatirkan telaginya mati dan membusuk karena air yang jernih tidak ada lagi kandungan makanan bagi mereka. 


(Keadaan Tepian tempat tambatnya perahu di sungai Lembok dekat terusan saat air pasang)

     Habitat telagi ini memang unik, ia hanya dijumpai mulai dari bagian hilir jembatan sei.Lembok hingga ke daerah terusan dan mendekati muara sungai Perigi. Sungai Lembok ini juga mengalami proses pasang-surut air. Hanya saja ketika musim kemarau panjang saat air pasang baru air sungai ini terasa sedikit asin (Khusus aliran dari jembatan-terusan). Saat air surut, sungai ini akan menampakkan baras-baras ditengah sungainya, terkecuali didaerah yang agak dalamnya (loyu). 

(Aliran sungai lembok di terusan)

     Walaupun selalu diambil dari sungai, keberadaan telagi ini tetap terus ada. Setidaknya setiap kondisi air kecil atau surut pasti ada saja yang mencari, walaupun tidak setiap hari juga. Sejak dahulu penduduk sekitar biasanya mencari telagi dengan beramai-ramai turun ke sungai ketika air sedang surut, tidak hanya orang tua, anak-anak pun antusias mengikuti kegiatan tersebut. Walaupun sebagian anak-anak itu merasa senang karena bisa bermain air disungai tapi ada juga yang sudah pandai mencari telagi sejak masih anak-anak. Tidak hanya dalam satu rumah atau keluarga yang turun ke sungai, terkadang juga mengajak para tetangga yang lain hingga kegiatan mencari telagi itu terasa sangat ramai dan menyenangkan. Kegiatan mencari telagi biasanya dihentikan ketika air sungai mulai pasang naik. keadaan air yang mulai naik membuat kegiatan mencari telagi tersebut semakin sulit. Baras-baras yang tadinya masih terlihat kini sudah hilang dan terendam oleh air yang pasang.

(Sampah kulit telagi yang berasal dari sisa konsumsi para penduduk)

     Kini kegiatan mencari telagi tersebut tidak lagi hanya dilakukan oleh penduduk seputaran Perigi saja. Kemungkinan karena faktor sambung-menyambung informasi pada sanak keluarga yang lain, para pencari telagi juga berdatangan dari mereka-mereka yang tinggal diluar kampong Perigi. Dan mereka yang datang mencari telagi ini tetap saja mereka-mereka orang Paser.
     Namun sekedar untuk informasi, ternyata telagi ini juga pernah hilang dan tidak ditemukan di sungai tersebut. Entah apa penyebabnya, setelah sekian lama menyusuri sungai dari hilir ke hulu kami tak menjumpai satupun telagi tersebut. Ketiga cara tersebut sudah kami lakukan namun tetap saja telagi itu tak ditemukan, yang kami temukan sepenjang menyusuri sungai tersebut adalah kulit cangkang telagi saja. Sering kami tertipu setelah mendapatkan telagi dengan kondisi utuh namun ternyata cangkang telagi itu kosong.
Sampai sekarang hal itu masih menjadi misteri bagi penulis pribadi. Apakah saat itu memang sedang musim bunuh diri masal para telagi..?,,,Hehe...atau mungkin air sungai sedang terkena pencemaran yang membuat para telagi mati. Beruntungnya kejadian itu tak berlangsung lama, karena para telagi kembali muncul dan bisa didapat dengan mudah kembali di sungai itu hingga sekarang.
     Semoga kelestarian telagi ini tetap terjaga di sungai Lembok dan segala bentuk pencemaran terhadap sungai bisa terus dijaga. Pencemaran bisa datang dari mana saja, contoh nyata yang sering terjadi adalah masih seringnya orang-orang yang kurang bertanggung jawab membuang sampah kesungai. Pencemaran limbah rumah tangga yang dengan sengaja mengalirkan limbah rumah tangga mereka secara langsung kesungai tanpa membuat penampungan pengendap terlebih dahulu. Dan yang lebih berat adalah pencemaran limbah perusahaan yang dahulu sering membuang limbah kesungai tersebut hingga membuat air sungai menjadi keruh pekat mendekati warna orange kemerahan.

Semoga kita semua bisa lebih bijak memperlakukan sungai sebagaimana fungsinya untuk sumber kehidupan manusia dan makhluk tuhan lainnya.