Monday, June 9, 2014

Beroa dan Tambak Pulut Tradisi Paser

     Semenjak masih jaman kanak-kanak saya sudah sangat terbiasa menghadiri berbagai acara beroa (acara selamatan dalam budaya masyarakat Paser). baik itu diadakan ditempat dato(kakek), tua' , uda, maupun ditempat keluarga yang lain bahkan dirumah sendiri juga sering diadakan.
Beroa ini biasanya banyak macamnya mulai dari yang paling sederhana yakni beroa  bulan roa, beroa bua-bua, beroa bayar hajat, beroa nyera' dan lain sebagainya. Namun disini penulis tidak semata-mata menjelaskan acara beroa tersebut, melainkan ada sebuah sajian yang biasanya selalu hadir pada setiap beroa tersebut (kecuali beroa bua'-bua'), yaitu "Tambak Pulut".
Haaaaahhh....!! Tambak pulut...???
Mungkin bagi agan-agan yang belum tahu mengira pasti ada hubungannya dengan kolam luas tempat memelihara ikan bandeng dan udang.. he.... 
Tambak Pulut ini adalah sajian yang terbuat dari ketan dan dibentuk seperti punuk/gunungan


Beroa sering dilaksanakan pada bulan roa (Sebelum bulan ramadhan), atau terkadang dilaksanakan pada malam sebelum hari raya. Biasanya waktu pelaksanaannya yakni setelah waktu magrib dan ada juga yang setelah waktu isya. Penetapan dua waktu tersebut biasanya menghindari waktu pelaksanaan beroa yang bersaamaan di rumah-rumah masyarakat yang berbeda. Jika dirumah penduduk satunya dilaksanakan pada saat selesai waktu magrib maka ditempat berbeda akan melaksanakan pada waktu setelah waktu isya. Hal tersebut bertujuan agar warga dalam satu kampong tersebut masih bisa menghadiri masing-masing rumah yang melaksanakan beroa tersebut.

     Dalam prosesi Beroa ini bisanya diawali dengan menyiapkan segala perlengkapan acara seperti masak-masak yang dilakukan pada ine'-ine' (ibu-ibu) dan remaja putri pada siang harinya. sejak dahulu proses masak-masak ini dilakukan secara gotong royong dan mengundang warga kampong, hal itu dikhususkan untuk acara yang besar saja. Berbeda apabila acaranya hanya kecil-kecilan, biasanya tuan rumah hanya mengundang sanak keluarga dekat dan para tetangga saja.
Saat waktu beroa tiba, tuan rumah terlebih dahulu menerima orang-orang yang datang dan sudah menjadi tradisi semua para tamu duduk lesehan dirumah yang menggelar Beroa. Posisi duduk lesehan ini membentuk posisi saling berhadapan dan memanjang, hal inilah yang menyebabkan ruang tamu atau ada ruang khusus rumah orang Paser yang membentuk ruang lost memanjang. Biasanya agar tuan rumah lebih memeberi ruang yang baik dan leluasa pada saat acara beroa. Ditengah-tengah para tamu yang sedang duduk lesehan tersebut akan dihidangkan makanan yang nantinya akan dinikmati bersama-sama. Makanan pertama yang dihidangkan adalah makanan berat seperti nasi beserta lauk pauk seperti ayam masak merah, masak kuning, oseng hati rempela ayam yang dicampur mi kuning, sayur umbut, sayur terong dan lain-lain tergantung kemampuan si penyelenggara acara. Sementara sipenghulu dan tuan rumah duduk dipaling ujung barisan tersebut dan saling berhadapan. Dihadapan tuan rumah dan penghulu atau sering disebut pembaca doa itu dihidangkan beberapa tambak pulut, beberapa jaja/kue yang diletakkan dalam satu baki dan perapen untuk membakar kayu wangi-wangian atau juga biasanya menggunakan gula putih.

Saat  para undangan sudah terkumpul maka penghulu akan mulai membaca doa keselamatan dan tolak bala serta diikuti oleh yang lain dengan menadahkan tangan (seperti berdoa) dan menyahut "Amiiiiiiin" setiap akhir kalimat doa yang dibacakan. Setelah selesai berdoa maka pada tamu dipersilahkan menikmati hidangan yang ada dan baki tambak pulut tadi diambil kembali dan diserahkan pada pihak ine-ine yang biasanya berada diruang dapur untuk memotong-motong membagikan kembali tambak pulut tersebut ke masing-masing piring dan dihidangkan lagi pada pada tamu sembari mereka sedang makan.

Setelah selesai menikmati hidangan yang ada tuan rumah biasanya langsung menyimpun kembali piring-piring yang kosong untuk dibawa kebelakang(tempat mencuci), disana lagi-lagi para ine'-ine' dan remaja putri telah menunggu untuk mencuci piring. Hidangan kini berganti dengan teh atau kopi dan beberapa jaja seperti onde, apam dan lain-lain. Hidangan terakhir ini adalah sebagai makanan penutupnya dan para tamu menikmatinya sembari bercengkrama berbincang-bincang mengenai pengelaman-pengalam hidup maupun cerita lainnya. Pada perbincangan tersebut biasanya tercipta komunikasi yang sangat hangat dan menciptakan pengalaman silaturahmi yang sangat dekat, tak jarang gelak tawa muncul dalam perbincangan tersebut karena para orang tua juga sangat senang "Bereko" atau istilah umumnya bercanda. Pada saat menikmati hidangan penutup tersebut sebenarnya kita telah selesai mengikuti acara beroa tersebut, kita bisa berpamitan dengan tuan rumah dan menyalami(bersalaman) dengan semua tamu undangan yang lain jika ingin pulang lebih dulu. Namun bagi yang senang mendengarkan cerita-cerita dari orang tua yang sudah barang tentu lebih banyak makan garam daripada kita, saat-saat seperti itu adalah hal yang sangat dinanti-nanti dan menyenangkan mendengarkan cerita-cerita dari beliau-beliau tersebut.

     Baiklah.... setelah mengetahui sekit tentang proses beroa yang sangat sederhana tersebut kini kita fokus pada tambak pulut yang sudah sedikit penulis kenalkan diawal tadi. Untuk membuat tambak pulut ini biasanya dilakukan oleh para ine'-ine' yang sudah mahir dalam pembuatannya.
Pertama-tama kita harus menyiapkan beras ketan yang direndam terlebih dahulu dan dipisahkan menjadi dua jenis yakni putih dan kuning, yang kuning beras ketannya tidak mendapatkan bahan tambahan apapun sedangkan yang kuning beras ketannya harus direndam dengan air parutan "jomit" atau kunyit hingga butiran beras ketan menjadi kuning. Langkah selanjutnya beras ketan tersebut ditanak/dimasak dengan dandangan hingga masak. Sembari menunggu ketan masak proses lainya adalah menyiapkan santan kelapa yang kemudian ditambahkan garam secukupnya. Setelah ketam masak maka diangkat kedalam sebuah wadah yang dilanjutkan dengan peroses penyiraman santan kelapa tadi pada ketan sedikit demi sedikit dan langsung diaduk-aduk menggunakan serong yang terbuat dari kayu *(Bisa diganti yang lain). Peroses tersebut membutuhkan keahlian dari si pembuatnya hingga ketan dirasa sudah pas untuk dibuatkan tambak pulut, proses penyiraman tersebut hanya sekedar membasahi permukaan ketan dan kemudian diserap oleh ketan dengan diaduk-aduk, tidak boleh disiram langsung dengan volume yang besar.

Setelah ketan telah siap maka dipindahkan pada wadah baki dan langsung dibentuk selagi hangat. Untuk membentuknya kita memerlukan plastik bening pembungkus gula/terigu untuk membungkus kedua tangan kita dan lanjut membuat bentuk punuk atau gundukan seperti gunung pada baki tersebut. Membuat gunungan itu harus padat dengan sedikit kekuatan namun tetap memperhatikan keindahan tampak pulut itu sendiri, terutama bentuk permukaan luar tambak yang mulus dan rapi bentuk bulatannya.


Setelah bentuk tambak pulut jadi maka hal terakhir yang perlu dilakukan adalah menaruh telur atau potongan paha ayam kampong dipuncak tambak pulut tersebut. Bahkan pada acara beroa yang dilaksanakan secara besar-besaran akan menaruh ayam kampong panggang diatas tambak pulut tersebut. ayam kampong panggang itu biasa disebut "piak peranggang" dan biasanya dipanggang tanpa menggunakan tambahan bumbu apapun namun rasa daging ayamnya tetap nikmat.

 *Source: among ; https://www.facebook.com/among.c.angon

Menurut pengalaman saya, telur yang ada diujung tambak pulut itu selalu menjadi rebutan anak-anak. Hehe..... Termasuk saya saat masih anak-anak. Telur tersebut akan dipotong dibagi-bagi menjadi bagian yang kecil-kecil saat proses pemotongan tambak pulut, sehingga telur tersebut bisa dibagi dengan bagian yang lebih banyak. Proses pemotongan pembagian tambak pulut itu juga tidak boleh sembarangan potong, ada tahapan-tahapannya juga. Tahap pertama adalah memotong menggunakan pisau bagian atas tambak pulut dengan posisi memotong bagian dekat pucak dengan melingkar, kemudian baru boleh memotong bagian-bagian lainnya dengan bentuk kotak-kotak atau jajar genjang yang penting besarnya sama. 

Bagaimana dengan rasa tambak pulut ini ?, karena pada proses pembuatannya menggunakan santan kelapa yang dicampur sedikit garam, sehingga membuat rasa ketan memiliki cita rasa gurih dan sangat nikmat sekali jika dicocol kuah dari ayam masak merah maupun kuah ayam masak kuning... 
Hhhhmmmmmmm...... yuuuumiiiiii...,..

Karena salah satu tradisi tersebutlah setiap tahunnya ketika orang Paser "Ngumo" atau berladang entah padi gunung atau padi sawah sudah pasti harus juga menanam padi beras "Pulut"atau ketan selain padi "kopas" atau beras biasa. Selain untuk tradisi membuat tambak pulut, beras ketan juga sangat dibutuhkan untuk membuat Pontaq atau emping padi , lemang, dan jenis makanan lainnya.

Demikianlah sedikit informasi mengenai beroa sederhana dan tambak pulut dalam tradisi masyarakat Paser. Rasa syukur dan doa harapan manusia yang selalu meminta pada yang kuasa  membuat tradisi tersebut masih berjalan, Selain itu selalu mendekatkan individu masyarakat yang berbeda jabatan, akal-pikiran dalam kehidupan bermasyarakat menyatu dan bertatap muka bersilaturahmi dengan duduk sama rendah dalam suasana yang hangat. 


*Semoga artikel ini dapat menambah wawasan Anda. Oleh Admin, Sobat diperbolehkan mengcopy paste / menyebar-luaskan artikel ini, namun Anda harus menyertakan link hidup dari artikel ini sebagai sumbernya. Mohon kerjasamanya dalam sedikit menghargai hasil kerja keras dan karya dari Penulis.
Tabe....
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment