Thursday, October 30, 2014

Warna Ungu di Kabupaten Paser

Anda pernah berkunjung ke Tana Paser, atau lebih luasnya ke Kabupaten Paser ?......
Jika Anda pernah berkunjung atau malah memang tinggal di daerah tersebut tentunya tahu uniknya ibukota Kabupaten Paser itu.
Yaa...... siapapun yang mengunjunginya tentunya akan melihat rona warna ungu dimana-mana. Mulai bangunan kantor pemerintahan daerah, tempat umum, mobil dinas, sebagian rumah warga, tepi trotoar, pot bunga, dan lain sebagainya.

02/07/2014. Para keponakan sedang berpose dengan latar belakang kawasan Rumah Sakit Panglima Sebaya dan hotel Sadurengas di Tana Paser.

Bagi sebagian orang yang pernah melihat fenomena "Ungu-ungu everywhere.." di Tana Paser ini pastinya punya pandangan masing-masing. Ada yang takjub luar biasa dengan penuh kegembiraan, namun ada pula yang mengerenyit kan dahi sembari geleng-geleng kepala bahkan ada yang merasa malu dan mencaci-maki kebijakan Bupati Paser ini.

 
Pak HM Ridwan Suwidi. Bupati Paser dua periode (2005-2015) via Sejarahpaser.com

     Bagi mereka yang suka warna ungu sudah barang tentunya sangat bergembira dengan kebijakan pengecatan ungu tersebut. Cantik, indah, dan lain sebagainya adalah beberapa kesan yang pertama kali mereka utarakan.Sampai-sampai ada sebagian orang yang memberi nama purple city buat Tana Paser..... -_- hedeehh.
Bagi mereka yang tidak suka atau mungkin punya pengalaman buruk dengan warna ungu atau mungkin phobia dengan warna tersebut, Hee...pasti mereka merasa tidak nyaman melihat warna ungu dimana-mana itu.
      "Iiiihh apa-apaan ini, kok warna janda dimana-mana"Begitu ketus mereka.
Entah sejak kapan para janda diidentikan dengan warna ungu, belum pernah saya jumpai komunitas para janda mendeklarasikan warna ungu menjadi identitas mereka. Kan kasihan ada bawe yang masih gadis kebetulan suka warna ungu terus kemana-mana di bilang janda.

Reaksi warga kabupaten Paser memang sangat beragam dengan kebijakan warna ungu ini. Jika melihat komentar warga di media sosial maupun dunia nyata, banyak yang mempertanyakan tujuan dari kebijakan tersebut. Sebelum warna ungu mendominasi dulunya ada warna hijau yang dipilih untuk menghiasi Kabupaten Paser, namun pada perjalanan periode kedua warna hijau itu pun mulai berubah menjadi warna ungu.
Melihat perubahan warna tersebut kemudian muncul anggapan dari sebagian masyarakat bahwa Pemerintah Daerah ini hanya sibuk dan menghambur-hamburkan uang rakyat hanya untuk cat sana cat sini. Membangun bagunan yang bisa dikatakan belum terlalu dibutuhkan malah didahulukan demi menterengnya warna ungu tersebut. Padahal masih banyak hal-hal yang jauh lebih penting untuk diperhatikan dimasyarakat. Banyak sektor yang masih butuh sentuhan pembanguan dari pemerintah daerahnya. Di Tana Paser sangat sibuk mempercantik diri sementara di tempat berbeda yang masih dalam wilayah Kabupaten Paser ada sebuah kampung atau desa yang diminta pindah agar Pemerintah daerah tidak mengeluarkan dana besar untuk membuka akses kampung tersebut karena terlalu pelosok. Bagaimana bisa warga kampung tersebut dipaksa pindah sementara mulai dari dato nene, kakah itak meraka sudah tinggal dan mencari penghidupan dikampung tersebut.
Belum lagi masalah klasik infrastruktur diberbagai wilayah di kabupaten Paser tersebut seperti jalan, jembatan dan lain sebagainya yang masih butuh perhatian khusus.

Ada pula yang beranggapan bahwa kebijakan warna ungu tersebut agar menegaskan siapa yang memimpin dan menjadi penguasa di Pemerintahan Daerah Kabupaten Paser. Kelak jika si penguasa sudah turun tahta, maka semua pembanguan yang berwarna ungu-ungu tersebut akan melekat bahwa kesemua itu hasil pembangunan yang dilakukan para masa pemerintahannya. Dengan kata lain, rakyatnya akan selalu mengingat semua pembangunan yang dilakukannya saat menjabat.

Dari berbagai reaksi yang masih mempertanyakan tujuan kebijakan itu ternyata ada juga yang merasa masa bodoh dengan hal tersebut. Apalah arti sebuah warna, yang lebih terlihat perbedaan itu hanya pada para petinggi atau pejabat daerah dengan rakyat biasa. Rakyat biasa tentu lebih senang mendapat bantuan rumah walaupun rumah itu harus bercat ungu. Yaa.... tak jadi masalah lah warna ungunya yang penting dapat rumah. Para petinggi pemerintahan daerah bisa saja membuat berbagai kebijakan namun sepertinya rakyat hanya bisa menerima apa adanya dan tak bisa menyanggah lebih banyak.

Namun dari sekian banyak definisi yang terlontar dari masyarakat, sebenarnya arti dan makna warna ungu tersebut  sesuai dengan Peraturan Bupati No 48 tahun 2013 itu dapat dilihat dibawah ini;

Atau lebih jelasnya silahkan menuju TKPnya disini

Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 48 tahun 2013 itu kemudian terus menjalar kemana-mana hingga akhirnya menginvasi tempat ibadah tersohor di Tana Paser, yakni Masjid Agung Nurul Falah.
 Masjid Agung Nurul Falah, Tana Paser. Dalam proses pengecatan ulang dengan warna ungu via www.facebook.com/abdul.rasul

Dalam keterangan di surat kabar mengatakan bahwa untuk pengecatan warna ungu pada Masjid Agung Nurul Falah tersebut dianggarkan dana mencapai Rp 170 juta. Wah dana ratuasan juta mungkin kecil aja buat kabupaten Paser yang menempati urutan ke-9 daftar 20 kabupaten/kota penerima dana bagi hasil sumber daya alam terbesar itu.  Silahkan cek disini .
Namun setiap individu juga pasti punya pemikiran masing-masing tentang dana sebesar itu.

Untuk lebih memperluas lagi invasi warna ungu tersebut, sepertinya ada cara baru yang lebih efektif lagi tanpa mengeluarkan terlalu banyak dana dari epok/dompet pemda. Menjelang perayaan hari ulang tahun Kabupaten Paser, akan diadakan lomba untuk apapun fasilitas di Kabupaten Paser dengan warna ungu, baik itu lingkup perkantoran, pendidikan, dan swasta serta rumah-rumah warga akan kita nilai sesuai kriterianya, dan yang terbaik akan kita berikan hadiah.
WOOOOOOAAA............!!!!! via www.yummymummyflabbytummy.co.uk

"Woooaaaaaww....!!!! Dapat hadiah papa, cepat cat rumah pake warna ungu paaaa.....!!!"
"Aduuhh nak, buat jajan pentol salome mu tiap sore aja dah ketar-ketir nak...."
"Siapa tau kita menang paaah, jadi nanti hadiahnya buat beli pentol salome pahhh...!!"
" -__- ".

Jika hadiahnya menggiurkan, partisipasi warga akan meningkat demi hadiah tersebut. Dan Warna ungu semakin merayap dan menjalar lebih luas lagi. Untuk lebih jelas berita mengenai akan diadakan lomba tersebut bisa membaca berita dari KALTIM POST Selasa, 14 Oktober 2014 berikut ini;

Panitia HUT Paser Gelar Lomba Warna Ungu
TANA PASER - Siapa pun yang pertama kali menginjakkan kaki di Bumi Daya Taka Paser pasti akan terpana dan dibuat kagum. Pasalnya, tidak ada kabupaten/kota bahkan provinsi di Indonesia yang seluruh fasilitas perkantoran dan infrastrukturnya, bahkan rumah-rumah masyarakatnya memiliki corak satu warna atau seragam.
Tapi di Kabupaten Paser, hal itu ditemui. Bahkan warna ungu diabadikan pada danau buatan dengan sebutan Telaga Ungu. Hampir semua fasilitas perkantoran di Kabupaten Paser dan sarana pendidikan seperti gedung-gedung sekolah warna ungu, dan begitupun trotoar jalan juga dicat ungu.
Menariknya, tanpa ada anjuran, masyarakat pun ikut mengecat rumah-rumah mereka dengan dominan warna ungu yang banyak mengartikan sebagai warna kesempurnaan yang datang mewujudkan kemakmuran masyarakat Paser.
Warna ungu yang menghiasi wajah fasilitas-fasilitas pemerintahan dan swasta serta pemukiman warga tersebut, pada peringatan hari jadi Kabupaten Paser atau HUT ke-55 tahun 2014 akan diagendakan menjadi ajang lomba, bahkan tidak hanya fasilitas perkantoran maupun fasilitas lainnya seperti pendidikan yang akan dinilai, namun fasilitas swasta dan rumah-rumah warga juga akan mendapat penilain dengan warna ungunya.
Penilaian warna ungu untuk fasilitas pemerintah, swasta dan masyarakat ini diungkapkan Bupati Paser HM Ridwan Suwidi saat memberikan pengarahan pada rapat persiapan peringatan Hari Jadi Kabupaten Paser ke-55 tahun 2014 pada 29 Desember mendatang baru-baru ini di Ruang Rapat Sadurengas Kantor Bupati Paser.
“Jadi pada momen HUT ke-55 hari jadi Kabupaten Paser tahun ini, kita akan menggelar ajang lomba untuk apapun fasilitas di Kabupaten Paser dengan warna ungu, baik itu lingkup perkantoran, pendidikan, dan swasta serta rumah-rumah warga akan kita nilai sesuai kriterianya, dan yang terbaik akan kita berikan hadiah,” tandas Bupati di hadapan panitia HUT ke-55 Kabupaten Paser. (hms9/tom/k14)


 "warna ungu yang banyak mengartikan sebagai warna kesempurnaan yang datang mewujudkan kemakmuran masyarakat Paser". 

Warna ungu tersebut dipilih ternyata mengandung diartikan sebagai warna kesempurnaan yang datang mewujudkan kemakmuran masyarakat Paser. Dengan warna ungu yang bertebar dimana-mana tersebut mungkin sudah bisa menggambarkan bahwa masyarakat Paser ini telah makmur.
Bagaimana dengan orang Paser atau suku Paser yang merupakan penduduk asli Kabupaten Paser.
Apakah warna ungu tersebut bisa mewakili setiap sendi kehidupan dan budaya mereka ?.

Peserta Festival Kemilau Kaltim asal Penajam Paser Utara yang diselenggarakan di Kota Samarinda.Walaupun bukan dari Kabupaten Paser namun mereka juga mewakili ciri budaya yang dimiliki suku Paser.

Paser Desa Muara Kuaro kec. Muara Komam, saat pawai di kecamatan Muara Komam tanggal 17 Agustus 2014 via www.facebook.com/taufiek.rahman

Acara Belian yang diselenggarakan oleh orang Paser via www.youtube.com/channel/UC-AO2DtjmwKBQQX768c5Isw

 Lou' Panti / Pengundur, suatu bangunan kecil yang diperuntukkan sebagai tempat bagi juus tuo dalam budaya Paser.  

Penampilan finalis duta wisata Kabupaten Paser menggunakan pakaian pernikahan adat Paser pada acara Malam Grand Final Pemilihan Duta Wisata & Budaya Kalimantan Timur 2014 via www.facebook.com/phutery.shalamun


Tarian daerah Paser "Tolang Singkir" persembahan Kelompok Kesenian Mansan Bulau  via www.facebook.com/perpustakaan.paser


Keraton Kesultanan Paser sekarang telah menjadi Museum Sadurengas dan dipugar pada tahun 2008. Museum Sadurengas menempati bangunan bekas rumah salah satu Sultan Paser, yaitu Aji Tenggara (1844-1873). Pada awal abad ke-19 bangunan ini menjadi Istana Sultan Ibrahim Khaliludin. Bangunannya membentuk rumah panggung yang dalam bahasa Paser disebut ‘Kuta Imam Duyu Kina Lenja’ yang berarti rumah kediaman pemimpin yang bertingkat.

Setelah melihat sebagian kecil potret adat budaya dari suku Paser diatas, bisa kita amati tak ada dominan warna ungu disana. Jadi warna ungu tersebut adalah simbol baru yang diciptakan dari peraturan bupati untuk menjadi bagian dari warna khazanah lokal Paser. Dalam perbup tersebut warna ungu memilki banyak makna diantaranya; Tenang, anggun, hangat, keperayaan diri, toleran, luwes, demokratis, kemauan keras, dan lain sebagainya. Pokoknya warna ungu itu di perbup tersebut maknanya semuanya yang berkaitan dengan yang baik-baik dah.
Tapi diriku pribadi malah sering melihat warna ungu itu diartikan sedang kesakitan, memar, mual seperti itulah. bahkan melihat warna ungu itu aku jadi ingat sosok Evil minions di film animasi "Despicable me 2".
Evil Minions. Mereka berwarna ungu dan Ssstttttt.... mereka jahat lho. via classicsaredead.deviantart.com

Tapi itu hanya pandangan pribadiku saja loh, setiap individu kan pasti punya pandangan masing-masing mengenai makna sebuah warna. Dan bagiku aku juga suka warna ungu sama seperti warna lainnya. Bagiku menyukai semua warna itu sama seperti menyukai semua jenis musik.
Seorang dosenku pernah berkata; "Seseorang yang menyukai hanya satu jenis musik saja itu jiwa seninya masih kurang". jadi menurutku orang yang tidak menyukai semua warna itu juga jiwa seninya masih kurang. karena dengan banyak warna tentunya masih banyak kesempatan untuk menciptakan hal baru lainnya. Namun akan berbeda jika warna untuk sebuah simbol dari adat dan budaya, sudah barang tentu telah melewati kesepakatan dan punya sejarahnya sendiri sehingga dipakai oleh sebuah klan disuatu daerah.

Pada suku Paser sendiri juga dikenal beberapa warna yang sering terlihat disetiap acara adat maupun di kehidupan sehari-hari lainnya. Beberapa warna bahkan dianggap sangat sakral, dan warna yang dianggap sakral dalam budaya Suku Paser itu tak lain adalah putih, kuning, merah dan hitam. Empat warna tersebut diartikan sebagai berikut, via www.facebook.com/miroslavkhein 
  • Bura : Putih , warna Sengiang
  • Lemit : Kuning, warna Tondoi
  • Mea' : Merah, warna Nayu'
  • Buyung : Hitam, warna Bongai.
Jadi jangan mengherankan jika sebagian orang Paser merasa seperti menginjakkan kaki didaerah yang bukan daerahnya sendiri. Kepentingan membuat warna ungu dimana-mana ini seakan menyingkirkan warna sakral yang dimiliki oleh orang Paser sendiri. Belum lagi simbol-simbol adat budaya Paser yang mulai digantikan dengan simbol-simbol budaya lain. Biasanya suatu daerah pasti punya maskot atau icon yang berciri khas masing-masing sesuai dengan adat budaya, flora, fauna maupun kehidupan masyarakat yang identik dengan daerah itu sendiri. Misalnya Kota Samrinda dengan icon pesut dan corak warna sarung Samarindanya. icon pesut sendiri diangkat karena punya cerita tersendiri bagi masyarakatnya dan kini sedang dalam usaha perlindungan dikarenakan termasuk hewan yang nyaris punah. Dan sekarang kita bandingkan dengan warna ungu dan icon bunga mawar yang ada di Tana Paser. Apakah hal tersebut diangkat dari masyarakat Suku Paser ?

Laki-laki Suku Paser menggunakan ikat kepala atau penutup kepala dari kain yang biasanya berwarna hitam, kuning, putih maupun merah yang disebut "Laung". 
Setiap warna kain yang digunakan sebagai Laung juga memiliki arti masing-masing.

Suku Paser tidak miskin budaya kok untuk diangkat dan dijadikan maskot di daerahnya sendiri. Dari mulai sejarahnya, seni pertunjukan seperti tarian daerah, kuntaw, Sempuri, Betore, Belian dan acara adat lainnya serta berbagai hal yang menyangkut gaya hidup suku Paser sehari-harinya.

Jika ada yang berkunjung ke Tana Paser dan masih bertanya-tanya tentang bagaiman budaya asli di Tana Paser, apakah pemerintah daerahnya tidak merasa malu dengan hal tersebut ?.
Semestinya setiap seseorang yang datang ke suatu daerah pasti akan tahu adat istiadat dan budaya setempat dimulai dari melihat daerah itu sendiri. Jika simbol-simbol kedaerahan bertebaran didaerah tersebut, tanpa bertanya lagi sudah pasti orang akan mengenal budaya apa dan suku apa didaerah tersebut. Terkecuali jika suatu daerah itu memang tidak ada budaya aslinya, atau mungkin sengaja dihilangkan sedikit demi sedikit.

Sebagian orang mengatakan Tana Paser itu masyarakatnya multikultur. Banyak ragam suku yang tinggal dan menjadi warga menetap disana, sehingga dalam kesehariannya mempengaruhi kebudayaan masyarakatnya. Tapi hal tersebut bukan alasan kebudayaan pribuminya dipinggirkan. Tak ada didaerah Indonesia ini yang tak terjadi multikultur, hal tersebut terjadi karena negara kita memang memiliki beragam suku dan budaya yang manusianya tersebar dimana-mana. Seperti halnya orang Paser juga ada yang tinggal dan menetap diluar daerah Paser di Indonesia bahkan diluar Indonesia. Namun kita sudah SEPAKAT bahwa Indonesia itu kaya akan budaya setiap masing-masing suku disetiap daerahnya. dengan demikian sudah sepantasnya tidak terjadi dominasi budaya lain disuatu daerah yang juga punya budaya sendiri. Setiap Pemerintah Daerah punya tanggung jawab melestarikannya sama seperti halnya negara kita melestarikan budaya Nusantara dari terjangan budaya Asing. 
Kita ketahui bersama kondisi masyarakat kita saat ini yang dibarengi berbagai kemajuan diberbagai bidang membuat kesadaran masyarakatnya akan budayanya sendiri sangat mudah sekali luntur dan menghilang. Namun tak sedikit pula beberap usaha yang dilakukan masyarakat untuk mengangkat budayanya sendiri. Hal tersebut dapat dilihat masih banyak orang Paser yang melaksanakan kegiatan-kegiatan tradisi mereka di kampong-kampong mereka, terus memberi pemahaman dan pengetahuan tentang budaya Paser pada penerus mereka dan lain sebagainya. Namun semua usaha tersebut tak akan kepermukaan jika tak ada perhatian pula dari pemerintah daerah. Kerjasama semua pihak tentunya sangat dibutuhkan demi menunjukkan identitas kita ditanah sendiri.

Jika maksud warna ungu ini juga bertujuan agar Paser lebih dikenal diluar daerah karena keunikannya, apakah dengan mengangkat budaya setempat sudah terlalu membosankan dan tak dapat berbuat banyak untuk pengenalan ke luar daerah. Jika selama ini sebagian pengunjung dari luar daerah memang merasa takjub dan senang melihat warna ungu yang ada di Tana Paser. Bagaimana dengan pandangan masyarakat Paser sendiri ?. Jika dalam masyarakat Paser sendiri terlalu banyak yang kontra dengan warna ungu ini, apakah pemerintah daerah lebih mementingkan rasa senang dan takjub pengunjung dari luar daerah daripada kesenangan yang muncul dari warganya sendiri.

     Dari sekian reaksi dan pandangan masyarakat tentang Perbup 2013 tentang warna ungu tersebut, tentunya ada apresiasi juga perlu dihaturkan untuk pemimpin daerah Paser ini. Dibalik warna ungu-ungu tersebut Kabupaten Paser kini sudah mengalami beberapa perubahan. Paser kini punya Rumah sakit yang besar dan semoga pelayanannya juga terus ditingkatkan. Tiap desa kini punya mobil dinas masing-masing untuk memaksimalkan kinerja dan pelayanan aparatur desa yang dulunya cuma kendaranaan roda dua. Sebentar lagi Paser punya bandara sehingga mempersingkat perjalanan. Rakyat Paser yang tak punya rumah atau rumahnya tidak layak huni dibuatkan Rumah Layak Huni (LRH) oleh pemerintah daerahnya.Disetiap kegiatan festival budaya yang diselenggarakan didaerah lain Paser juga sering mengirim utusannya dan tak jarang memperoleh prestasi dan penghargaan terbaik. Sebagian bagunan sekolah sudah dibuatkan banguan baru, termasuk sekolah SD ku dulu, Heee... yang pada awalnya bangunannya lebih mirip gudang ketimbang sekolah, kini sudah beton dan kokoh. Dan banyak lagi perubahan-perubahan lainya yang telah dilakukan pada masa pemerintahan Pak Ridwan Suwidi ini.
Di Tana Paser yang paling aku suka adalah bentuk pot tanaman hias yang ada di trotoar-trotoar jalan yang dibuat bentuknya bagai solong. Hmmmm.... jika melihat ini selalu teringat saat sedang ke ladang atau kebun dan membawa kayu bakar didalamnya. Seandainya saja hal-hal yang identik dengan kehidupan suku Paser yang seperti itu lebih banyak ada di Tana Paser tentunya sangat membuat hati kami berkesan. dengan demikian walaupun jauh kami melangkahkan kaki dari kampong ke Tana Paser(Ibukota Kabupaten) kami akan tetap merasakan menginjak tanah leluhur kami sendiri.
Pot bunga yang berbentuk "Solong". Solong merupakan perlengkapan kerja suku Paser yang berfungsi sebagai wadah membawa sesuatu dengan cara digendong dipunggung. photo via ifanjayadi1980.wordpress.com

Seiring berjalannya waktu kini kesadaran orang Paser akan budayanya memang mulai terlihat, hal tersebutlah yang membuat sebagian reaksi pada warna Ungu tersebut. Kesadaran tersebut akan menumbuhkan suatu kebanggaan tersendiri pada orang Paser namun bukan berarti meninggikan sikap kesukuan yang kebablasan dan berlebihan. Aku Pribadi juga kagum dengan budaya Jawa, Sunda,  Melayu, Batak, Bugis, dan lain sebagainya *(yang belum disebut jangan marah). Namun kita sudah diwariskan pulau dan tanah masing kan setiap suku untuk membentuk persatuan negara Indonesia. Jika ada dominasi tertentu maka kita bukan lagi Indonesia. Karena Indonesia itu komponennya adalah berbagai macam suku yang masing-masing punya tanggung jawab melestarikan kebudayaannya demi Kejayaan budaya Indonesia Juga. 

Kata Navicula kan " Warna-warni kita menjadi satu..........." 

~TABE.......................

8 comments:

  1. Terima kasih pak, sudah meluangkan wktu untuk membaca dan meninggalkan komentar,,, salam persahabatan dan sukses selalu juga pak....

    ReplyDelete
  2. terima kasih sudah mau berbagi. saya suka membacanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kembali agan Tanah Grogot sudah mau mampir membaca,,, terima kasih atas Apresiasinya....

      Delete
  3. tulisannya dgn bahasa sederhana tapi kena telak...mantap...

    ReplyDelete
  4. hello tanah paser, 6thn tinggal disana belum puas rasanya kalau tinggal cuma 6thn semoga nanti bisa netap disana :)

    ReplyDelete
  5. Halo gan , ane mau buat konten
    Ttg purple city tana grogot , apakah di tahun 2020 masih dominan warna ungu ? Ane pernah singgah disana tahun 2014

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah tidak lagi, warna sudah kembali seperti biasa. kini warna kuning sedikit kolaborasi dengan hijau. ^_^,,,

      Delete